Oleh Mubasyier Fatah, Bendahara Umum Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) dan Pelaku Industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
TAK ADA yang lebih bergetar dalam ingatan kolektif bangsa ini selain suara Bung Tomo yang menggelegar di udara Surabaya, 10 November 1945. Di tengah kepulan asap, ledakan bom, dan gemuruh mortir, suara itu menembus batas rasa takut dan menggugah kesadaran bahwa hidup tidak selamanya tentang bertahan, tetapi juga memperjuangkan martabat. Pertempuran Surabaya adalah titik balik kesadaran nasional – saat kemerdekaan yang baru berusia tiga bulan diuji oleh darah dan keberanian.
Dalam pertempuran itu, diperkirakan lebih dari 6.300 hingga 15.000 pejuang Indonesia gugur, sementara sekitar 2.000 pasukan sekutu tewas dan lebih dari 20.000 warga sipil mengungsi. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan simbol dari harga yang harus dibayar untuk sebuah kemerdekaan. Namun lebih dari sekadar kisah heroik, 10 November adalah pengingat bahwa kepahlawanan selalu lahir dari kesadaran moral: kesadaran bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri yang patut dibela. Kini, hampir delapan dekade berlalu, kita hidup di zaman yang berbeda. Senjata telah berganti menjadi gawai, medan tempur berpindah dari jalanan Surabaya ke ruang digital yang tanpa batas.
Musuh tak lagi memakai seragam militer, melainkan menyamar dalam bentuk lain, yakni disinformasi, intoleransi, ujaran kebencian, polarisasi, dan ketidakpedulian publik. Pertanyaannya, masihkah kita memiliki jiwa kepahlawanan di tengah kebisingan digital ini?
Pahlawan Surabaya bertempur dengan bambu runcing dan keyakinan; pahlawan masa kini bertempur dengan literasi, empati, dan kesadaran digital. Jika dahulu ancaman datang dari penjajah yang tampak di mata, kini penjajahan hadir dalam bentuk yang lebih halus – penjajahan pikiran dan kesadaran. Kita dijajah oleh algoritma yang menentukan apa yang harus kita lihat, pikir, dan percayai.
Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2024 mencapai 221,56 juta jiwa, atau 79,5 persen dari total populasi. Sementara laporan Digital 2024: Indonesia mencatat 139 juta pengguna aktif media sosial, atau hampir setengah penduduk negeri ini (49,9 persen). Artinya, hampir setiap warga Indonesia kini hidup di medan tempur digital – tempat nilai, opini, dan fakta beradu tanpa batas waktu.
Kepahlawanan hari ini bukan lagi keberanian melawan peluru, tetapi melawan kebohongan, kemalasan berpikir, dan ketidakpedulian moral. Menegakkan kebenaran adalah perjuangan yang sama beratnya dengan merebut kemerdekaan fisik pada 1945.
Pahlawan digital menjaga akal sehat publik. Menolak menyebarkan hoaks, memverifikasi sebelum membagikan, dan memilih diam ketika opini bisa menyakiti kebenaran. Mereka tidak berperang dengan senjata, tapi dengan etik dan empati. Bangsa ini pernah menumpahkan darah demi kemerdekaan, namun di dunia maya, sering menumpahkan kebencian demi engagement.
Padahal, semangat 10 November sejatinya adalah tentang kesatuan dan keberanian berpikir jernih di tengah ketakutan. Sebuah semangat yang justru sangat relevan di tengah era post-truth, ketika fakta dikalahkan oleh perasaan dan opini. Sebagaimana Bung Tomo menggunakan radio untuk membakar semangat rakyat, hari ini kita pun memiliki “radio” baru: media sosial, podcast, dan ruang digital yang bisa menggerakkan kesadaran kolektif — jika digunakan dengan tanggung jawab.
Pahlawan di Tengah Krisis Nilai
Tidak semua pahlawan diingat dengan patung atau diabadikan dalam buku sejarah. Banyak yang hidup di antara kita tanpa gelar dan tanda jasa. Guru di pelosok yang mengajar dengan koneksi internet seadanya, perawat melayani pasien di tengah keterbatasan fasilitas, aktivis muda melawan korupsi digital dan penipuan daring, atau jurnalis yang tetap setia pada fakta meski ditekan kepentingan. Inilah pahlawan zaman ini. Tidak diarak, tidak viral, tapi terus menjaga nilai yang sama dengan para pejuang Surabaya: kejujuran, keberanian, dan ketulusan.
Menurut survei Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (BPS, 2024), tingkat literasi nasional Indonesia baru mencapai 64,48 poin dari skala 100 — meningkat dari 2022, namun masih tertinggal dibanding negara ASEAN lain. Ini menunjukkan bahwa perjuangan kita hari ini bukan lagi mempertahankan wilayah, melainkan memperluas kesadaran. Ironisnya, ketika teknologi melesat pesat, nilai sering tertinggal. Banyak “influencer”, tetapi sedikit “panutan”. Banyak yang berbicara tentang nasionalisme, tetapi tak banyak yang berani menolak praktik culas dalam kekuasaan.
Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering kekurangan orang benar. Krisis terbesar kita bukan keterbelakangan teknologi, melainkan krisis keteladanan. Kepahlawanan sejati tidak membutuhkan panggung;ia tumbuh dari keberanian untuk tegak di atas nilai, bahkan ketika dunia menertawakannya.
Dalam birokrasi, kepahlawanan berarti berani transparan di tengah budaya tutup mata.Dalam akademia, berarti berani berpikir jernih di tengah konformitas intelektual. Dalam media, berarti berani menulis kebenaran, bukan sekadar yang disukai publik.
Kepahlawanan Baru di Era Algoritma
Surabaya 1945 adalah simbol perjuangan melawan penjajahan fisik;Silicon Valley 2025 adalah simbol dunia yang dikuasai teknologi dan data. Apakah bangsa ini akan kembali menjadi penonton di tengah revolusi digital global, atau berani menjadi pelaku sejarah baru? Kepahlawanan masa kini harus dimaknai sebagai keberanian untuk berinovasi dan mencipta.Ketika anak-anak muda Indonesia mengembangkan kecerdasan buatan untuk pendidikan, kesehatan, atau lingkungan, mereka sejatinya sedang melanjutkan perjuangan 10 November dalam bentuk yang baru.
Survei Global Innovation Index 2024 menunjukkan bahwa Indonesia masih berada di peringkat 75 dari 132 negara. Artinya, spirit inovasi bangsa ini belum sepenuhnya bergerak secepat potensinya. Namun di balik angka itu, muncul generasi baru yang berani melawan arus — para inovator sosial, pembuat konten edukatif, dan pegiat tech for humanity yang menyalakan api kepahlawanan di dunia digital. Semangat heroik bukan lagi mengangkat senjata, melainkan mengangkat solusi. Dan solusi terbesar bagi bangsa ini bukan sekadar digitalisasi, tetapi moralitas dalam digitalisasi.
Era digital membuka peluang bagi setiap individu menjadi pahlawan melalui perannya.Mahasiswa yang menginisiasi gerakan literasi digital, relawan yang mengajarkan keamanan siber, atau wirausahawan sosial yang membangun startup berbasis empati — mereka semua bagian dari ekosistem kepahlawanan baru. Negara harus menumbuhkan ekosistem ini melalui kebijakan yang berpihak pada inovasi dan tanggung jawab sosial digital. Pendidikan harus menanamkan nilai digital citizenship: menjadi warga negara digital berarti memikul tanggung jawab etis atas setiap klik dan unggahan.
Surabaya 1945 adalah perlawanan terhadap penjajahan fisik; tahun 2025 adalah perlawanan terhadap penjajahan pikiran. Kolonialisme kini tak datang dalam kapal perang, melainkan dalam bentuk dominasi algoritma global dan ketergantungan teknologi asing. Kepahlawanan digital menuntut kedaulatan berpikir. Kita harus belajar memilah, menganalisis, dan berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi. Karena kebebasan berbicara tanpa kemampuan berpikir kritis hanyalah bentuk lain dari penindasan diri sendiri.
Menjaga Api Surabaya di Zaman Siber
Setiap 10 November bangsa ini berhenti sejenak mengenang para pejuang yang gugur. Namun mengenang tidak cukup; kita perlu melanjutkan semangat itu dengan cara yang sesuai zaman.
Peringatan Hari Pahlawan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk meninjau ulang kompas moral bangsa: apakah kita masih berjuang untuk kepentingan bersama, atau sibuk memperjuangkan ego di ruang maya?
Kepahlawanan hari ini adalah soal tanggung jawab sosial di dunia digital.Bagaimana kita menjaga agar ruang publik tetap sehat, jujur, dan manusiawi. Bagaimana memastikan bahwa teknologi melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya. Pahlawan masa lalu menaklukkan musuh dengan peluru; pahlawan masa kini menaklukkan diri sendiri – ego, kemarahan, dan nafsu berkuasa. Keberanian fisik melahirkan kemerdekaan politik; keberanian moral melahirkan kemerdekaan batin. Sejarah selalu bergerak. Dulu, Surabaya menjadi simbol keberanian fisik; hari ini, ruang digital menjadi panggung keberanian moral.
Pahlawan masa lalu mengangkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan; pahlawan masa kini mengangkat kesadaran untuk mempertahankan kebenaran. Kemerdekaan tidak pernah selesai; ia hanya berganti medan. Dan tugas kita sebagai bangsa merdeka adalah menjaga agar kemerdekaan itu tetap bermakna. Karena pada akhirnya, bangsa ini hanya akan besar, jika anak-anak mudanya memiliki keberanian moral untuk berkata: “Aku memilih menjadi manusia yang benar, meski tidak viral.”
Selamat Hari Pahlawan. Dari Surabaya ke ruang digital — perjuangan belum selesai.

Leave a Reply