LAMPUNG, SP – Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) segera menggelar koordinasi semua pihak dari petani hingga pabrik tapioka untuk mengoptimalkan industri singkong. Hal ini menjadi bagian dari upaya membenahi berbagai tantangan dan kendala di Lampung. Salah satunya dimulai dengan membangun sinergi implementasi pupuk subsidi singkong.
Dalam keterangan tertulisnya, Kamis (13/3/2025), MSI yang sudah berdiri secara nasional sejak 15 tahun lalu itu mendorong koordinasi berbagai pihak untuk menopang produksi singkong dan industri tapioka. Hal ini sebagai tindak lanjut sikap MSI pada akhir Januari lalu ketika memberikan masukan atas kondisi singkong di Lampung. Saat itu MSI dengan tegas mendorong semua pihak untuk menyelamatkan industri singkong di Lampung.
Baca : Perlu Koordinasi Nasional, MSI Imbau Selamatkan Petani dan Industri Singkong
Sikap itu disampaikan Ketua Umum MSI Arifin Lambaga dan Sekjen Heri Soba bahwa perlu adanya koordinasi semua pihak mengatasi singkong di Lampung dan Indonesia secara umum. MSI juga mengusulkan sejumlah solusi dalam jangka pendek dan jangka panjang. Ini menjadi dasar untuk membenahi supply chain singkong dan menopang hilirisasi mencapai kesejahteraan bersama.
“Sikap MSI jelas bahwa semua pihak dari hulu hingga hilir yang terkait singkong dan industri pengolahan harus mempunyai visi dan komitmen bersama. Apalagi pemerintah pusat mempunyai perhatian besar karena singkong sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional atau RPJMN,” kata Helmi Hasanudin dari MSI.
Baca : Prabowo Sebut Singkong untuk Swasembada Pangan, MSI: Jadikan Komoditas Strategis Nasional
MSI menyadari ada banyak persoalan dan tantangan dalam persingkongan di Indonesia yang harus diatasi satu per satu. Namun, kebersamaan semua pihak sangat diperlukan mulai dari petani/produsen, pelaku usaha (pengepul), pabrik tapioka, distributor pupuk, pemerintah daerah/dinas terkait, akademisi/peneliti dan pihak terkait lainnya.
“Kebersamaan dan saling memahami sangat diperlukan untuk membangun kepercayaan atau trust. Inilah kelebihan industri singkong di negara lain. Setelah itu baru dirunut solusinya sesuai skala prioritas,” ujar Heri.
MSI juga memberi apresiasi atas rencana Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan hilirisasi terhadap singkong untuk dijadikan tepung mocaf maupun produk energi ramah lingkungan bioetanol. Provinsi Lampung ditarget menyumbang kapasitas produksi sekitar 3.000 hektare sehingga menjadi jalan keluar bagi polemik harga singkong yang berkepanjangan di Lampung.
Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Yudi Sastro, saat pertemuan dengan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Rabu (12/3/2025).
Adapun dalam agenda koordinasi MSI di Lampung, salah satu tema yang dibahas adalah tindak lanjut implementasi pupuk subsidi untuk singkong. Kemudahaan akses pupuk diharapkan meningkatkan produktivitas singkong yang berdampak pada kesejahteraan petani.
Sebelumnya, PT Pupuk Indonesia (Persero) mengajak seluruh petani singkong segera mendaftarkan diri dalam Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (E-RDKK) pada tanggal 6 hingga 18 Maret 2025 agar dapat segera menebus pupuk bersubsidi.
Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Wijaya Laksana menyatakan singkong dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 4 Tahun 2025 tercatat sebagai komoditas penerima pupuk bersubsidi, bersama sembilan komoditas lainnya, yaitu padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kakao, dan kopi.
Ia berharap petani singkong segera mendaftarkan diri dalam E-RDKK melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) atau Balai Penyuluh Pertanian (BPP) setempat agar penyaluran bisa segera direalisasikan. [PR/SP-02]

Leave a Reply