Sekolah Peternakan Rakyat IPB Tembus Papua Barat, Tiga Kabupaten Siap Implementasi

MANOKWARI, SP – Pengembangan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) IPB University di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, sudah berjalan sejak 2023. Hal ini menginspirasi Gubernur Papua Barat untuk mengembangkan di kabupaten lain, salah satunya Kabupaten Pegunungan Arfak.

Menindaklanjuti hal tersebut, seperti dikutip dari laman ipb.ac.id, Kamis (31/7/2025), tim SPR IPB melakukan sosialisasi ke Kabupaten Pegunungan Arfak yang diinisiasi oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Provinsi Papua Barat.

“Kegiatan ini bertujuan mendorong percepatan kedaulatan pangan di Papua Barat melalui SPR IPB. Saat ini, masih tiga kabupaten yang akan dikembangkan SPR. Namun ke depan, beberapa kabupaten juga akan mendirikan SPR IPB yg sudah terbukti berhasil di berbagai tempat di Indonesia,” kata drh Hendrikus Fatem selaku Kepala DPKH yang juga alumni IPB University.

Prof Muladno sebagai penggagas SPR IPB mengatakan, Kabupaten Pegunungan Arfak memiliki hamparan lahan luas dan potensi kekayaan alam besar. Namun, sumber daya manusia (SDM) petani dan peternak masih sangat terbatas.

“Karena itu, penggunaan teknologi dan mekanisasi di bidang pertanian dan peternakan harus dilakukan agar pengelolaan dan pemanfaatan lahan dapat dioptimalisasi supaya produktivitasnya yang tinggi. SPR IPB diharapkan mampu mengubah mindset para petani dan peternak,” ungkapnya.

Pada kesempatan sama, Prof Agik Suprayogi, salah satu pendiri SPR IPB mengatakan, Kabupaten Pegunungan Arfak memiliki kondisi mikroklimat yang sejuk sekitar 18–22 derajat Celcius dengan kesuburan tanah dan keberadaan air melimpah. Kondisi ini sangat potensial untuk pengembangan sapi perah dengan konsep agrosilvopastoral.

SPR sebagai inovasi IPB University telah tersebar di 29 kabupaten dan 18 provinsi di Indonesia dan akan tumbuh progresif di pelosok Indonesia. “Semoga SPR IPB bermanfaat bagi petani dan peternak dalam upaya meraih kedaulatan pangan di Provinsi Papua Barat,” harapnya.

Gagasan ini dibenarkan oleh drh Hendrikus. Ia mengungkap, pada zaman kolonial Belanda, wilayah tersebut sudah ada peternakan sapi perah. Namun, setelah kemerdekaan tidak diteruskan oleh peternak di sana. “Menjadi benar dan cocok jika wilayah Pegunungan Arfak dikembalikan menjadi peternakan sapi perah melalui SPR IPB,” kata Agik yang juga dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) ini.

Dalam sosialisasi tersebut, tim IPB memberikan pemahaman tentang pengertian dan tatacara pendirian SPR kepada kepala dinas dan staf, dekan, dan staf Universitas Papua (Unipa). Turut hadir calon peternak/petani dari tiga kabupaten, yaitu Manokwari, Manokwari Selatan, dan Pegunungan Arfak.

Prof Andoyo Supriyantono selaku Dekan Fakultas Peternakan Unipa menyampaikan apresiasi yang tinggi atas hadirnya IPB University di Papua Barat melalui inovasi SPR yang sudah tersebar di Indonesia. “Kami juga terpanggil bersama IPB untuk mendukung program DPKH Papua Barat,” ungkap Andoyo.

Sementara itu, Arya Wishnuardi SE MSi, dari perwakilan Solidaritas Alumni SPR Indonesia (SASPRI) menyebutkan, SPR komoditas ayam dapat dikembangkan di Kabupaten Manokwari. Sementara itu, komoditas sapi potong cocok dikembangkan di Kabupaten Manokwari Selatan. Sebab, kedua komoditas tersebut sudah menjadi tumpuan ekonomi masyarakat setempat. “Yang diperlukan sekarang adalah melatih mindset dan membuka akses pasar yang lebih luas,” tambahnya. [PR/KP/SP]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*