Mampukah Indonesia Membuat AI Sendiri? Peluang, Tantangan, dan Jalan ke Depan

Mubasyier Fatah

Oleh: Mubasyier Fatah, Bendahara Umum Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) dan Pelaku Industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

KECERDASAN buatan (artificial intelligence/AI) telah menjadi medan persaingan baru dalam geopolitik teknologi dunia. Di tengah gelombang revolusi industri 4.0 dan geliat transformasi digital global, negara-negara berlomba menjadi pionir dan produsen utama teknologi AI. Pertanyaannya, mampukah Indonesia menciptakan AI-nya sendiri? Untuk menjawabnya, kita perlu menelaah posisi Indonesia secara global. Melihat siapa saja yang berhasil mengembangkan AI secara mandiri, mengevaluasi kekuatan dan peluang Indonesia, serta menghadapi realita tantangan yang mengadang.

Selama dekade terakhir, AI generatif mengalami momentum pertumbuhan pesat karena investasi meningkat. Contoh, pada tahun 2024, AI menarik investasi swasta global USD 33,9 miliar, tumbuh 18,7 persen dari tahun 2023. Amerika Serikat (AS) misalnya dikenal sebagai pelopor dan pemimpin global dalam riset dan pengembangan AI. Raksasa teknologi seperti Google (dengan DeepMind), OpenAI, Meta, Amazon, dan Microsoft sudah mendominasi.

AS telah memiliki institusi riset terdepan, seperti MIT, Stanford, dan Carnegie Mellon, tetapi terus meningkatkan investasi AI. Pada 2024 investasi swasta AI di AS mencapai USD 109,1 miliar. Tak mau tertinggal, Tiongkok membangun AI sebagai bagian inti strategi nasional. Dengan dukungan negara dan perusahaan seperti Baidu, Tencent, dan Alibaba, Tiongkok menargetkan menjadi pemimpin AI dunia pada 2030. Tahun 2024 sektor swasta Tiongkok mengucurkan dana investasi USD 9,3 miliar pada riset, data, dan infrastruktur digital.

Selain dua negara adi daya itu, Uni Eropa (UE) juga mengukuhkan diri sebagai kawasan berteknologi AI mapan. Inggris, Jerman dan Prancis berkolaborasi mengembangkan model AI mandiri berbasis etika dan regulasi ketat. UE juga telah membentuk European AI Alliance untuk mendukung inovasi dan mendorong kedaulatan digital. India satu-satunya di kawasan Asia Tengah yang mandiri dalam bidang AI. Selain memiliki inisiatif National AI Mission, India ditopang SDM IT tangguh, dan startup agresif. India kini mengembangkan model bahasa AI sendiri berbasis multibahasa nasional.

Di kawasan Timur Tengah, Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi telah tampil sebagai dua negara terdepan di bidang AI. UEA misalnya mendirikan universitas khusus AI pertama di dunia, Mohammed bin Zayed University of AI (MBZUAI). Sedangkan Arab Saudi mengembangkan strategi nasional AI untuk mendukung transformasi digital dan diversifikasi ekonomi berbasis teknologi.

Perintisan AI di ASEAN
Walau belum sehebat negara-negara di atas, beberapa negara ASEAN telah merintis pengembangan AI secara mandiri sebagai bagian dari strategi nasional. Sejak 2019, Singapura menyusun National AI Strategy untuk mengintegrasi AI sektor kesehatan, transportasi, dan keamanan. Negara ini juga memiliki pusat riset seperti AI Singapore yang memfasilitasi kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi. Malaysia membayangi langkah Singapura dengan merumuskan Malaysia AI Roadmap 2021–2025, yang menargetkan pengembangan talenta AI lokal dan peningkatan penggunaan AI di sektor publik.

Vietnam pun mengembangkan AI sendiri, fokus pada pendidikan, kota pintar, dan layanan publik digital. Sementara itu, pada tahun 2022, Thailand meluncurkan Thailand National AI Strategy and Action Plan tahun 2022, memprioritaskan AI manufaktur dan pertanian. Meski masih tahap awal, negara-negara ini menunjukkan komitmen tidak sekadar menjadi konsumen, tetapi juga produsen teknologi AI.

Lalu, di mana posisi Indonesia? Indonesia mempunyai potensi digital luar biasa. Lebih dari 200 juta pengguna internet dan populasi muda melek teknologi, Indonesia masuk jajaran pasar digital terbesar di dunia. Namun, potensi saja tidak cukup. Untuk membuat AI sendiri, Indonesia harus memenuhi syarat-syarat utama, sebagai berikut;
Pertama, Indonesia harus terus memperkuat literasi dan talenta digital dengan mendorong perguruan tinggi membuka program studi STEM (science, technology, engineering, and mathematics), terutama TI, sehingga banyak generasi muda menjadi talenta digital.
Kedua, Indonesia perlu terus memperkaya daya data digital dari berbagai sektor: sosial, ekonomi, agrikultur, transportasi, hingga budaya. Kekayaan data harus dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan riset di bidang TIK.
Ketiga, mendayagunakan ekosistem startup yang sedang berkembang. Saat ini Indonesia memiliki lebih dari 2.400 startup aktif, beberapa di antaranya seperti Gojek, Tokopedia, dan Traveloka masuk kategori unicorn dan sudah fasih memanfaatkan AI, bahkan mulai mengembangkan model AI lokal.
Keempat, Indonesia tak boleh lagi kendur dalam memberikan dukungan pada perintisan AI. Ia harus konsisten melanjutkan Strategi Nasional AI 2020–2045 dengan fokus pada lima sektor: kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan, pangan, dan mobilitas.
Kelima, kedaulatan digital telah menjadi isu nasional. Indonesia berpeluang mengembangkan AI sendiri karena pemerintah dan kalangan swasta dan serta masyarakat akademis memiliki kesadaran yang meningkat untuk menjaga data nasional dan mengurangi ketergantungan asing. Bahkan, pemerintah melalui Kementerian Komdigi, baru menyusun Peta Jalan Nasional Kecerdasan Artifisial (AI) sebagai bagian dari langkah strategis menjadikan Indonesia terdepan dalam transformasi digital di kawasan Asia.

Kelemahan dan Tantangan
Meskipun peluang terbuka lebar, Indonesia menghadapi tantangan fundamental untuk mengembangkan AI sendiri. Tantangan terbesar justru karena Indonesia memiliki keterbatasan dalam aspek infrastruktur TIK, SDM TIK yang minim dan riset TIK yang terbatas. Untuk membangun model AI tingkat lanjut seperti Large Language Models (LLM), Indonesia perlu computational power sangat besar. Namun, hingga kini belum memiliki fasilitas penting seperti superkomputer, GPU skala besar, dan pusat data canggih.

Selain itu, Indonesia juga masih sangat bergantung pada cloud luar negeri seperti AWS, Azure, dan Google Cloud. Bahkan chatbot, sistem rekomendasi, hingga pemrosesan bahasa Indonesia masih sangat bergantung pada model asing seperti GPT, BERT, atau Claude. Kendala lainnya berkaitan ketersediaan data berkualitas. Indonesia memiliki data dalam jumlah besar, tetapi sebagian besar dari data tersebut belum terdigitalisasi, tidak terstandarisasi, dan tercecer di banyak instansi yang belum saling terhubung.

Selain itu, Indonesia terkungkung masalah privasi dan keamanan data karena belum memiliki sistem keamanan siber yang kuat. Indonesia juga masih berhadapan dengan kendala terkait dengan SDM atau talenta AI. Indonesia memiliki banyak lulusan STEM, tetapi jumlah pakar AI kelas dunia sangat minim.
Selain itu, Indonesia mengalami kekurangan jumlah dosen, peneliti, dan praktisi senior di bidang AI.

Sementara itu, banyak talenta top asal Indonesia justru bekerja di luar negeri. Hal lain yang menjadi batu sandungan bagi Indonesia adalah riset dan inovasi yang minim, terutama bidang TIK. Hingga kini, pengeluaran nasional untuk riset dan pengembangan (R&D) masih sangat rendah, kurang dari 1 persen dari PDB, jauh di bawah negara-negara maju. Akibatnya, institusi riset di Indonesia sulit bersaing menghasilkan AI terdepan.

Indonesia juga terkendala membangun AI sendiri karena kolaborasi yang relatif sangat lemah antara akademisi, industri, dan pemerintah. Konsep triple helix (kampus–industri–pemerintah) belum berjalan optimal. Banyak riset di kampus yang tidak berlanjut ke hilirisasi industri karena tidak terkoordinasi dengan baik, tidak mendapat insentif dan dukungan regulasi. Jika serius ingin membangun AI sendiri, Indonesia mesti menjalankan beberapa strategi penting berikut.

Pertama, perlu fokus untuk mengembangkan Niche AI lokal. Indonesia tidak perlu langsung membuat GPT setara ChatGPT, tetapi mulai fokus mengembangkan model AI lokal seperti Model NLP (Natural Language Processing) untuk bahasa daerah; AI untuk sektor pertanian, UMKM, dan pendidikan lokal.; dan computer vision untuk analisis citra pertanian, perikanan, bencana, dan geo-spasial,

Kedua, Indonesia harus mempercepat pembangunan infrastruktur komputasi nasional berupa superkomputer atau konsorsium cloud AI nasional. Ini bisa melalui program, digitalisasi BUMN dan mendorong kerja sama digital kampus dan industri.

Ketiga, Indonesia harus terus memperbesar investasi pengembangan talenta AI dengan cara memberi beasiswa AI, menyusun program magang industri, pertukaran dengan kampus luar negeri, dan pelatihan praktis harus menjadi prioritas.

Keempat, perlu memperkuat regulasi dengan menerapkan Undang-undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) secara ketat untuk memastikan penggunaan data untuk AI tidak merugikan masyarakat. Selain itu, Indonesia perlu menyusun kerangka etika AI lokal yang kontekstual sesuai nilai-nilai Pancasila.

Kelima, Indonesia juga mesti memperkuat kolaborasi riset kampus–industri. Pemerintah memberi insentif pajak bagi industri yang mendanai riset AI di kampus; melibatkan universitas dalam konsorsium riset AI nasional; memajukan startup AI; memperbanyak lembaga riset AI untuk menghasilkan aplikasi AI yang mudah diimplementasi oleh warga lokal.

Kedaulatan Digital
Sejatinya, membuat AI sendiri bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal kedaulatan digital, ekonomi masa depan, dan harga diri bangsa. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi teknologi asing, tetapi juga harus menjadi produsen dan inovator. Indonesia harus percaya diri mengembangkan AI sendiri, karena ada contoh positif terkait best practice transformasi digital.

Indonesia, misalnya, telah memiliki BRIN dan BPPT yang pernah merilis sistem pengenalan wajah dan model NLP dasar. Di sektor swasta, sejumlah startup level unicorn seperti Gojek dan Bukalapak mengembangkan sistem rekomendasi dan pemrosesan teks bahasa Indonesia. Kita juga punya PANDI dan komunitas open source yang mencoba membangun corpus bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Bahkan, kita juga punya NLP-ID dan beberapa universitas yang sudah merilis model Bahasa Indonesia berbasis BERT dan LSTM. Namun, harus diakui semua itu masih dalam skala terbatas. Untuk membuat AI yang benar-benar berskala nasional dan mampu bersaing global, perlu konsolidasi dan dukungan politik yang besar. Tentu perjalanan ini tidak mudah. Tapi dengan strategi tepat, visi jangka panjang, dan keberanian politik, Indonesia bisa membangun AI-nya sendiri sebagai AI yang memahami logat lokal, nilai-nilai kebangsaan, dan kompleksitas sosial Indonesia.

Pertanyaannya bukan lagi ‘mampukah?—tapi “maukah’ kita membangun AI sendiri?” ***

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*