JAKARTA, SP – Berbagai tantangan terkait komoditas singkong di Indonesia harus diselesaikan secara holistik agar bisa menyentuh akar permasalahan. Salah satu yang cukup membebani dalam rantai pasok singkong adalah biaya transportasi yang mahal. Ini menyebabkan harga singkong menjadi mahal.
Demikian salah satu yang dibahas dalam webinar Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) pada Kamis (3/7/2025) dengan nara sumber Joao Mota selaku Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Dr Fuad Gani SS, MA selaku Wakil Direktur Sekolah IImu Lingkungan Univ Indonesia (SIL-UI), dan Kukuh Sujianto yang juga Ketua DPP MSI Bidang Budidaya sekaligus praktisi singkong di Sukabumi, Jawa Barat. Kegiatan diskusi dibuka oleh Wakil Ketua Umum DPP MSI Prof Dr Achmad Subagio dan dipandu oleh Heri Soba selaku Sekjen DPP MSI.
“Singkong memerlukan penyelesaian holistik karena persoalan selama ini sudah berkelanjutan dan tidak pernah ada penyelesaian. Sebagaimana kita pahami, petani singkong tidak pernah gagal panen, tetapi selalu gagal harga,” kata Joao Mota dalam paparannya.
Dia menjelaskan, input yang terlalu dalam budidaya singkong sehingga harga saat panen tidak menutup biaya operasional dan tidak bisa menopang kesejahteraan para petani.
Untuk itu, lanjutnya, Agrinas Pangan Nusantara (APN) mengajak semua pihak untuk membuka diri dan harus melihat inti permasalahan agar bisa selesai. Apalagi, singkong bisa menjadi andalan dan kedaulatan pangan itu tercapai kalau bisa mencukupi produksi pangan secara berkelanjutan sekarang dan masa depan dengan harga bersaing.
Joao menjelaskan salah satu persoalan yang menjadi beban harga singkong adalah transportasi. Petani atau produsen singkong harus mengeluarkan sekitar Rp 300 per kilogram untuk biaya transportasi.
Rp 1,2 Miliar Per Bulan
Sepakat dengan Joao, Kukuh Sujianto yang juga praktisi singkong mengakui bahwa biaya transportasi cukup tinggi dan menjadi hambatan umum dalam rantai-pasok pertanian. Ini menjadi beban biaya yang mubazir atau potensi keuntungan yang hilang.
“Perhitungan kami pada tahun 2021 lalu, untuk wilayah Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat) saja, potensi pendapatan petani singkong yang terbuang mencapai Rp 1,2 miliar per bulan. Ini beban biaya yang seharusnya bisa ditekan atau menjadi pendapatan petani kalau transportasi dibenahi. Ini baru dari singkong dan masih banyak komoditas lainnya,” kata Kukuh.
Dikatakan, angka tersebut terlihat kecil tetapi itu baru dari komoditas singkong yang selama ini diangkut dari Kabupaten Sukabumi ke daerah lain. Singkong diangkut dalam bentuk segar karena belum banyak diolah menjadi berbagai produk turunan. Sejak beberapa tahun lalu, singkong dari Sukabumi memasok kebutuhan pengolahan singkong menjadi berbagai produk turunan seperti tepung dan bahan baku industri lainnya.
“Selain di wilayah Jawa Barat dan Jabodetabek, singkong segar asal Sukabumi juga dikirim hingga ke wilayah Jawa Tengah,” ujar Kukuh.
Padahal, lanjutnya, kalau biaya transportasi ditekan atau meningkatkan pengolahan di Sukabumi maka petani atau produsen juga akan mendapatkan keuntungan. Setidaknya harga singkong bisa naik karena biaya transportasi sudah berkurang. [KP/SP]

Leave a Reply