Komunitas Disabilitas Jabodebek Rayakan HUT Kemerdekaan RI

Komunitas Bersama Sahabat Disabilitas (BSD) Katedral Bogor mengikuti upacara HUT ke-78 RI di Bogor, Jawa Barat.

BOGOR, SP – Para penyandang disabilitas tak ketinggalan ikut memeriahkan perayaan HUT Kemerdekaan RI. Agenda Agustusan digelar dan diikuti sejumlah komunitas disabilitas di wilayah Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi (Jabodebek).

Di Kebon Jeruk, Jakarta, puluhan disabilitas mengikuti aneka lomba dari Yayasan Anak Terang Ministri (ATM). Lomba permainan domino, catur, balap karung, kelereng, makan kerupuk, dan memasukkan paku ke dalam botol berlangsung meriah. Pengurus Yayasan ATM Tjenli mengatakan, acara bertujuan memupuk semangat kebersamaan antardisabilitas dan juga antarkeluarga.

Sementara itu Biro Pelayanan Penyandang Disabilitas (BPPD) Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta menghelat aneka lomba Agustusan di Areal Plaza Maria, Gereja Katedral Jakarta. Lomba kereta balon, memindahkan gelas dengan balon, melempar bola ke dalam baskom, fashion show berbusana koran, dan estafet sarung diikuti ragam disabilitas.

“Tema HUT kali ini adalah Semangat Kemerdekaan Bersama Disabilitas LDD KAJ. Kami ingin berbagi kegembiraan dan kebersamaan dalam keragaman,” tandas Ketua BPPD LDD KAJ, Anastasia Sri Priharyanti.

Kemeriahan perayaan kemerdekaan juga terjadi di Panti Elsafan. Di daerah Duren Sawit, Jakarta ini para penghuni panti larut dalam lomba tarik suara dan berbagai lomba lainnya. “Bagi saya, kemerdekaan berarti terlepas dari diskriminasi, dimana saya bisa mengembangkan potensi saya sebagai tunanetra, dan memiliki kesempatan untuk mengimplementasikannya,” ungkap Mutiara, Penghuni Panti Elsafan.

Di tempat lain, meski berlangsung secara daring, lomba yang diadakan Perkumpulan Tunanetra Kristiani Indonesia (Petki) menuai antusiasme peserta. Pada perayaan Kemerdekaan tahun ini Petki Jakarta menggelar lomba membaca teks proklamasi, sedangkan DPP Petki mengadakan lomba content writing, dan content video. Perjuangan tunanetra yang tidak mudah menggapai asa tetap harus diisi dengan semangat dan rasa syukur. “Kami ingin membakar semangat juang tunanetra dalam mengisi kemerdekaan, disamping menumbuhkan nasionalisme,” tukas Mariana Messah, Pengurus Petki Jakarta.

Masih di Jakarta, KOMPAK Disabilitas juga menyelenggarakan lomba yang menarik yang diikuti ragam disabilitas. Lomba estafet bendera, dan makan kerupuk dihelat di areal komplek Gereja Hati Kudus, Kramat, Jakarta. Sementara di areal Gereja Santo Paulus, Depok, puluhan disabilitas bergembira mengikuti lomba melukis wajah, dan sepak terong.

Pengurus KOMPAK Disabilitas, Anastasia Sutimah berharap perayaan ini dapat membangkitkan rasa nasionalisme di kalangan disabilitas. “Kami juga ingin mereka bersuka cita dan bergembira bersama,” imbuhnya.

Di Bekasi, Jawa Barat, komunitas Fajar Harapan menyelenggarakan ibadah syukur kemerdekaan. Acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan santap siang bersama. Pendiri komunitas Fajar Harapan, Monica Linda menyatakan acara yang rutin diadakan itu bertujuan mempererat kebersamaan antardisabilitas, serta saling peduli satu dengan yang lain.

Di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, acara pengajian mengawali perayaan kemerdekaan yang diadakan Aliansi Pemerhati Penyandang Disabilitas Indonesia (APPDI). Puluhan penyandang disabilitas lintas agama kemudian berbaur dalam lomba domino, dan lomba karaoke. Ketua APPDI, Banuara Viktor menyatakan, kemerdekaan Indonesia adalah milik seluruh warga, termasuk disabilitas, apapun agama dan sukunya. “Kemerdekaan ini diraih oleh rakyat Indonesia dari beragam suku dan agama. Dan dari tiap suku dan agama itu, pasti ada penyandang disabilitasnya,” ujarnya.

Menyinggung kemerdekaan di depan hukum, dia berharap Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2020 tentang Akomodasi yang Layak bagi Penyandang Disabilitas dalam Proses Peradilan, dapat diterapkan.

Sedangkan komunitas Bersama Sahabat Disabilitas (BSD) Katedral Bogor berbaur dengan umat lainnya mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI. Johana Ida, Sekretaris BSD menyampaikan partisipasi komunitasnya pada upacara merupakan bentuk gerakan inklusi.
“Gerakan inklusi harus terus dibiasakan. Ini adalah upaya menghargai keberagaman, bukan hanya terbatas pada suku, agama, golongan, status sosial, gender dan sebagainya, tapi juga keragaman bentuk fisik, sensorik, mental, dan intelektual,” tegasnya. [IH/SP]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*