Maggot BSF Berikan Nilai Tambah, Kurangi Sampah dengan “Lobas” dan “Loker”

BOGOR, SP – Solusi atas persoalan sampah yang mendasar adalah mengurangi volume dan bukan sekadar memperbaiki alat angkut atau transportasi. Limbah Organik Basah (Lobas) dan Limbah Organik Kering (Loker) perlu dikelola oleh semua komunitas yang menghasilkan sampah. Penguraian sampah secara bikonversi dengan maggot (black soldier fly/BSF) justru menghasilkan nilai tambah dari sampah tersebut.

Dr Ir Darmono Taniwiryono selaku pakar maggot BSF menjelaskan bahwa pemilahan sejak awal dari sumber sampah sangat krusial. Mulai dari perumahan, desa, pesantren, sekolah, pasar, hotel, restoran, hingga satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) harus mengelola sampah dengan baik.

“Persoalan yang sangat penting adalah mengurangi jumlah sampah dengan berbagai teknologi dan pendekatan. Pemilahan Lobas dan Loker bisa diterapkan sehingga sampah yang diangkut tidak terlalu banyak. Jadi transportasi yang digunakan pun bisa lebih efisien,” ujarnya akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, dengan teknologi tepat guna sederhana dan bimbingan teknis selama satu bulan, sampah organik dapat dikelola tanpa menimbulkan bau menyengat, tanpa becek, dan tanpa kekhawatiran terjadinya ledakan lalat.

Dikatakan, dari sampah tersebut dapat dihasilkan tiga produk bernilai ekonomi yakni maggot BSF sebagai sumber protein dan lemak untuk pakan, pupuk organik padat kaya asam amino; dan
pupuk organik cair kaya asam amino.

“Investasi awalnya pun relatif sederhana. Beberapa kotak biopond, alat pencacah bahan kering, telur BSF, serta pendampingan teknis sampai masyarakat benar-benar mampu menjalankan sistem secara mandiri,” tegasnya.

Karena itu, lanjut Darmono, kebijakan persampahan jangan hanya berfokus pada penambahan atau perbaikan armada pengangkut. Namun, perlu mengurangi jumlah sampah yang harus diangkut dengan cara mengolah sejak dari sumbernya.

“Armada yang berfungsi memang penting, tetapi sistem pengolahan sampah di sumber jauh lebih menentukan. Mari mengubah sampah dari beban lingkungan menjadi sumber protein, pupuk, pendapatan, dan lapangan kerja bagi masyarakat. Jangan hanya memindahkan sampah, tapi selesaikan sampah dari sumbernya,” jelasnya.

Sebagai informasi, untuk Bogor Raya (Kota dan Kabupaten) menghasilkan sekitar 3.484,73 ton sampah setiap hari. Di Kota Bogor, hampir 500 ton per hari atau sekitar 70% berasal dari rumah tangga. Di Kabupaten Bogor, dari timbulan sekitar 2.757,87 ton/hari, yang diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) Galuga hanya sekitar 861,86 ton/hari.

Artinya, terdapat sekitar 1.896 ton/hari yang tidak tercatat terangkut ke TPA Galuga yang mungkin dikelola mandiri, tetapi sebagian lainnya berpotensi tidak tertangani dengan baik. Data resmi DLH Kabupaten Bogor untuk tahun 2024 juga mencatat timbulan sekitar 1,03 juta ton/tahun. Komposisi sampah TPA Galuga didominasi sisa makanan 55,30%, disusul plastik 16,57%.

Pemerintah Kota Bogor pada Juli 2025 menyebut timbulan sekitar 600–700 ton/hari, tetapi baru 18–20% yang dapat diolah dari sumber; hampir 40% berupa sampah sisa makanan. Dengan komposisi sampah diatas maka potensi wilayah Bogor Raya untuk dikelola dengan baik sangat potensial.
Terkait ini, bagi pihak atau komunitas yang ini mendapatan bimbingan teknis pengelolaan Lobas dan Loker selama satu bulan, silakan menghubungi Hafindo Bogor +62 857-7770-0181. [PR/Adv]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*