TERNATE, SP – Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos sering mengajak masyarakat untuk melakukan pemilahan dan pengolahan sampah. Adapun potensi limbah organik untuk diolah menjadi pupuk organik dan pakan ternak di provinsi kepulauan itu sangat berlimpah. Aneka sumber bahan baku organik tersebut bisa dari limbah pertanian dan perkebunan, seperti padi, jagung, singkong, kelapa lokal, dan kelapa sawit.
Dikutip dari laman resmi malutprov.go.id, Rabu (26/8/2026), Sherly mendorong warga untuk mengurangi sampah sehingga tidak mengakibatkan banjir pada saat musim hujan. Hal tersebut disampaikannya saat meninjau lokasi bank sampah di Kantor Lurah Fitu, Kota Ternate Selatan, pada Maret 2025 lalu.
Saat itu dirinya berharap masyarakat di Fitu, Kecamatan Ternate Selatan, menjadi perintis dalam pengolahahan sampah. Produk pengolahan sampah yang dipilah adalah plastik, kardus, kaleng susu, dan kertas buku. Sampah yang biasanya dianggap sebagai masalah, kini bisa menjadi sumber ekonomi baru bagi warga.
“Sebab mengolah sampah sudah tentu mengurangi sampah dan bisa menghasilkan uang,” ujar Sherly Laos.
Sebenarnya, potensi bahan baku organik di Maluku Utara sangat banyak dari aktivitas pertanian, perikanan dan perkebunan. Apalagi, Maluku Utara sebagai provinsi maritim maka ketersediaan pangan hewani masih perlu ditingkatkan. Peningkatan konsumsi pangan hewani harus diikuti dengan ketersediaan pupuk dan pakan ternak. Maluku Utara mempunyai potensi bahan baku melimpah dari limbah padi, jagung, singkong, kelapa lokal, dan kelapa sawit.
Di sisi lain, kebutuhan pupuk untuk menopang produksi pangan, terutama pupuk kimia, juga tidak sedikit. Kondisi inilah yang membuat Provinsi Maluku Utara juga terus berkoordinasi dengan PT Pupuk Indonesia. Pada Jumat (7/8/2026) lalu, Wakil Gubernur Maluku Utara H. Sarbin Sehe menerima audiensi PT Pupuk Indonesia yang juga dihadiri Kepala Dinas Pertanian Anwar M Nur beserta jajaran dan perwakilan PT Pupuk Indonesia. Audiensi ini membahas tiga hal utama yaitu penyaluran pupuk bersubsidi, pembenahan data penerima, dan dukungan terhadap sembilan komoditas strategis daerah.
Wagub menegaskan bahwa pemerintah provinsi ingin memastikan pupuk bersubsidi sampai kepada petani dengan harga, jumlah, dan waktu yang tepat. “Jangan sampai petani sudah mendapat subsidi, tetapi masih terbebani biaya transportasi karena kiosnya jauh. Ini harus kita carikan solusi. Kalau bisa sistemnya kita digitalisasi supaya lebih transparan dan tidak ada pungutan,” ujar Wagub.
Sejauh ini belum ada data rinci terkait kebutuhan pupuk subsidi dan pupuk secara keseluruhan di Maluku Utara. Dari jumlah kebutuhan yang harus dipasok dari Pupuk Indonesia, Maluku Utara juga sebenarnya berpotensi memproduksi pupuk organik dari bahan baku lokal sehingga mengurangi beban ekonomi daerah dan para petani dalam membelanjakan pupuk subsidi sekalipun. Bahkan, tidak saja memenuni kebutuhan di Maluku Utara, tetapi juga memasok wilayah-wilayah sekitar seperti kawasan Papua dan Sulawesi.
Dalam sejumlah forum Asosiasi Black Soldier Fly Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa limbah industri kelapa, khususnya sludge atau lumpur dari air cucian kelapa sangat bagus untuk memproduksi maggot (black soldier fly/BSF) yang bisa jadi pakan ternak dan pupuk organik. Kandungan protein dari maggot cukup besar sehingga bisa dicampur dengan tepung jagung atau tepung singkong yang cukup berlimpah di Maluku Utara. [CR/SP]

Leave a Reply