PTPN Group Bangun Ekosistem Singkong, National Cassava Center Menopang Kolaborasi

JAKARTA, SP – Holding Perkebunan Nusantara (PTPN Group) membangun mata rantai ekosistem singkong dengan aset perkebunan sebagai pijakan, menyambut peluang menghasilkan bioetanol untuk kekuatan energi, serta menjaga pasokan pangan. Kemitraan, riset, teknologi budidaya, peningkatan produktivitas, hingga hilirisasi dilakukan dengan berbagai pihak.

Direktur Utama PTPN III (Persero), Denaldy Mulino Mauna mengatakan, pengembangan ubi kayu diarahkan untuk membangun rantai nilai dari sektor hulu hingga hilir.

“Di sisi on farm, kami fokus pada optimalisasi lahan, penerapan teknologi budidaya, dan pengembangan varietas unggul berdaya hasil tinggi. Di sisi off farm, kami mengarahkan hilirisasi pada industri pengolahan, termasuk pemanfaatan ubi kayu sebagai bahan baku bioetanol,” ujar Denaldy dalam keterangannya.

Pada tahap awal pengembangan, PTPN Group melalui PTPN I menggandeng 11 mitra strategis yang terdiri atas perusahaan swasta, BUMD, BUMDes, koperasi, dan yayasan. Direncanakan penanaman pada lahan seluas 7.313 hektare. Sementara, pengembangan menuju target 10.000 hektare dilakukan secara bertahap mengikuti perluasan kemitraan dan kesiapan lahan.

Dengan pola tersebut, PTPN membangun kolaborasi agar budidaya dapat berkembang dalam skala lebih besar, dengan terhubung dengan kebutuhan industri. Skema ini juga membuka ruang bagi transfer teknologi, peningkatan produktivitas, serta penguatan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah pengembangan.

Untuk mengejar target, PTPN Group menggandeng Universitas Lampung dalam kolaborasi National Cassava Center (NCC) yang mencakup riset, pengembangan varietas unggul, peningkatan produktivitas, pendampingan budidaya, hingga dukungan teknis agar ubi kayu yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan sebagai bahan baku bioetanol.

Salah satu riset adalah tentang pengembangan varietas dan teknologi budidaya yang mampu menghasilkan produksi serta kandungan pati lebih tinggi, yang mengkaji sistem ubi kayu stek sambung (Mukibat).

Seperti diketahui, Menteri PPN/Kepala Bappenas, Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, M.S., telah meresmikan National Cassava Center (NCC) pada Juli 2026 lalu. Saat itu, dia menegaskan pengembangan NCC perlu berfokus pada action research, peningkatan produktivitas, peningkatan kandungan pati, serta penerapan Good Agricultural Practices bagi petani.

Menurutnya, keberhasilan tersebut hanya dapat dicapai melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan petani.
Ia menambahkan, kemajuan pertanian Indonesia tidak terlepas dari peran penelitian dan petani. Singkong juga dinilai memiliki potensi besar, tidak hanya sebagai bahan baku tapioka, tetapi juga sebagai sumber pangan, pakan, bahan bakar, hingga bioetanol. [Adv/SP}

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*