Hindari Sikap Diistimewakan, Penyandang Disabilitas Harus Punya Keterampilan

Penyandang disabilitas mengikuti pelatihan di Jakarta.

JAKARTA, SP – Kompetisi dan tuntutan dalam dunia kerja mengharuskan penyandang disabilitas memenuhi kualifikasi yang diinginkan perusahaan. Bukan hanya soal keterampilan atau keahlian bidang tertentu, tapi juga pengembangan diri agar dapat beradaptasi dengan lingkungan kerja.

“Keterampilan dan pengembangan diri mutlak harus dimiliki penyandang disabilitas jika ingin bekerja secara setara dalam lingkungan inklusi di sebuah perusahaan. Hindari sikap ingin diistimewakan, ingin dimaklumi yang sebenarnya tidak berkaitan dengan keterbatasan. Berikan kontribusi terbaik kepada perusahaan, seperti halnya sudah diterima dari perusahaan,” tegas Pendiri Yayasan Anugerah Dunamis Mulia, Lisa Ongkosurja di Jakarta, Jumat (9/6/2023).

Diungkapkan, penyandang disabilitas masih banyak yang tertinggal soal pengembangan diri. Hal itu karena kurangnya informasi dan juga kesempatan yang terbatas. “Bentuk pengembangan diri seperti kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi membantu penyandang disabilitas beradaptasi di lingkungan kerjanya. Kemampuan itu harus dilengkapi dengan pemahaman etika kerja, etika berteman hingga etika makan, lalu membangun team work yang baik, meningkatkan kepercayaan diri dan hal lainnya yang berorientasi pada pendidikan nilai dan karakter,” jelas Lisa.

Baca : Disamakan dengan PMKS, Penyandang Disabilitas Tuai Stigma

Terkait itu, sebanyak 20 penyandang disabilitas mengikuti pelatihan keterampilan IT Admin dan Pengembangan Diri. Pelatihan diinisiasi Yayasan Menembus Batas bekerja sama dengan Yayasan Anugerah Dunamis Mulia itu berlangsung selama lima hari, dari Senin (5/6/2023) hingga Jumat (9/6/2023). Dalam pelatihan di Azalia Hall, Jakarta, peserta juga dibekali pengetahuan IT Admin seperti literasi digital, budaya digital, cara membuat curriculum vitae (CV), teknik menghadapi wawancara kerja, dan keterampilan administrasi lainnya.

Direkrut BUMN
Yesaya Rapha, Manajer Proyek Yayasan Menembus Batas menyampaikan, para peserta akan disalurkan bekerja pada BUMN. “Kami memfasilitasi agar suatu saat ketika industri membutuhkan, mereka sudah siap. Nantinya pihak BUMN menentukan standarisasi dan kualifikasi, jadi keputusannya ada pada BUMN. Pada Juni ini, kami berharap ada peserta pelatihan yang direkrut BUMN,” tandasnya.

Ke depan, lanjut Yesaya, pihaknya akan membuka kesempatan kepada 80 penyandang disabilitas agar bisa mengikuti pelatihan serupa. “Saat ini baru gelombang pertama. Nanti ada gelombang kedua hingga kelima, masing-masing 20 peserta. Persyaratannya, calon peserta mampu mengoperasikan komputer, menguasai excel, memiliki ijazah minimal SMA atau sederajat, serta berdomisili tidak jauh dari lokasi pelatihan. Kami berikan sertifikat,” ujarnya.

Baca : Film Inklusi Terus Dikembangkan, Penyandang Disabilitas Jangan Menyerah

Peserta pelatihan, Gressia Carolina menyatakan banyak nilai positif dan baru yang didapatkan selama pelatihan. Penyandang tunanetra yang berkuliah di STT The Way Jakarta ini berharap peluang bekerja di perusahaan semakin terbuka bagi penyandang disabilitas.

Ryan Fahrezi, alumnus Universitas Negeri Padang berharap program pelatihan kerja semacam ini terus digalakkan pemerintah dan lembaga swasta. Penyandang tunadaksa yang sempat mengikuti tes pegawai BUMN namun gagal, mengaku tidak jera mengikuti seleksi lagi. Terutama setelah mengikuti pelatihan, ia makin siap memasuki industri kerja. [IH]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*