JAKARTA, SP – Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin, mengajak ratusan Generasi Z yang juga mahasiswa dari berbagai jurusan agar tidak terpapar misinformasi. Validasi atas informasi dalam era digital saat ini sangat penting.
Hal itu disampaikannya dalam Studium Generale bertajuk Bedah Buku Komunikasi Krisis Digital di Auditorium Vokasi Universitas Indonesia (UI), Kamis (6/11/2025). Selain Arif mewakili brand air minum dalam kemasan AQUA, hadir Rulli Nasrullah (penulis dan pakar komunikasi digital), Diah Widyawati (Tenaga Ahli KPU RI dan penulis), serta CEO Makaravox Jojo Suharjoyang juga sebagai moderator.
Acara dihadiri mayoritas dari kalangan Generasi Z yang aktif di media sosial dan menjadi kelompok paling rentan terhadap potensi terpapar oleh konten misinformasi.
Arif Mujahidin membagikan pengalaman praktis mengelola reputasi dan komunikasi korporasi di tengah derasnya arus isu digital. Dia mengajak mahasiswa Universitas Indonesia melakukan validasi atas informasi yang berlalu lalang di era digital saat ini.
Arif menekankan pentingnya literasi informasi dan tanggung jawab bersama dalam menghadapi arus informasi di dunia maya yang didominasi oleh noise (kebisingan) sehingga membuat voice (suara dan informasi sejati) turtutupi.
“Kami memilih jalur edukasi dan keterbukaan. Menjelaskan isu-isu secara langsung maupun tidak langsung kepada pemangku kepentingan dan publik melalui media, kanal digital, dan forum-forum akademik seperti ini. Kami juga mengajak pemangku kepentingan berkunjung ke pabrik untuk melihat sumber air dan upaya konservasi yang dilakukan AQUA,” kata Arif.
Ia juga meluruskan sejumlah kesalahpahaman publik terkait sumber air AQUA yang berasal dari sistem hidrogeologi pegunungan, bukan air tanah biasa.
“Sumber air AQUA berasal dari sistem air pegunungan melalui hasil penelitian hidro isotop, yang menunjukkan kesamaan ‘DNA’ dengan air hujan yang tersimpan di akuifer pegunungan tempat pabrik. Jadi pengeboran hanya cara mengakses air dari sistem pegunungan, bukan mengambil air tanah secara sembarangan,” jelas Arif.
Arif menambahkan, untuk menjaga kelestarian sumber air, AQUA menjalankan konservasi terintegrasi di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). Upaya ini meliputi penanaman pohon dan pembuatan sumur resapan di hulu, penerapan pertanian regeneratif di tengah DAS, hingga program Water Access, Sanitation, and Hygiene (WASH) — inisiatif penyediaan akses air bersih dan sanitasi berbasis partisipasi masyarakat.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya mahasiswa yang mengajukan pertanyaan seputar strategi komunikasi dan pengelolaan krisis di era digital. Seorang mahasiswa Vokasi UI peserta acara mengaku mendapatkan pemahaman baru setelah mendengar penjelasan Arif.
Jojo Suharjo, menilai diskusi ini menjadi jembatan antara teori akademik dan praktik nyata di lapangan. “Mahasiswa bisa melihat bagaimana teori krisis komunikasi diterapkan dalam industri. Praktik yang dilakukan AQUA dapat menjadi contoh konkret dalam mengelola reputasi di tengah gempuran informasi digital,” kata Jojo.
Sementara itu, Kaprodi Humas Vokasi UI, Mareta Maulidiyanti, menyampaikan apresiasi atas kehadiran para narasumber dan berharap kolaborasi serupa terus berlanjut. “Kehadiran praktisi seperti Pak Arif memperkaya wawasan mahasiswa. Kami ingin melahirkan generasi komunikator muda yang kritis, adaptif, dan tidak mudah terpengaruh misinformasi,” tuturnya.[PR/SP]

Leave a Reply