BOGOR, SP– Satu dekade ensiklik Laudato Si’ merupakan perjalanan yang sangat berarti untuk menatap masa depan Indonesia dan dunia. Gerakan Laudato Si’ Indonesia menuntut perubahan sikap dan perilaku sebagai ‘anggur baru’ melalui pendekatan pastoral kolaboratif, sejalan dengan gagasan ekologi integral yang menjadi spirit utama ensiklik Laudato Si’ (LS).
Demikian salah satu poin yang dibahas dalam panel diskusi yang menghadirkan narasumber Romo Marthen Jenarut, Pr (Sekretaris Komisi Keadilan dan Perdamaian-Pastoral Migran dan Perantau, KWI), pakar etika lingkungan Sonny Keraf, bersama rohaniwan Ignatius Ismartono SJ dan Ferry Sutrisna Wijaya. Diskusi dipandu Koordinator Tim Kerja Nasional Gerakan Laudato Si’ Indonesia (TKN GLSI) C. Lilik K.P.
Keterangan yang diterima SP, Senin (8/9/2025), menyebutkan panel diskusi pada Jumat malam tersebut merupakan rangkaian kegiatan Perayaan Nasional 10 Tahun Laudato Si’ di Sentul City, Bogor, pada 5-7 September. Kegiatan diikuti 150 peserta dari 11 keuskupan, yakni, Medan, Palembang, Lampung, Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Manado dan Balikpapan. Selain pertemuan nasional para animator LS, kegiatan selama 3 hari ini juga diisi workshop, pameran berbagai produk ramah lingkungan serta bazaar UMKM.
Gerakan Laudato Si’ Indonesia (GLSI) sendiri merupakan gerakan dan jaringan global yang terinspirasi oleh ensiklik Laudato Si’ dari mendiang Paus Fransiskus tahun 2025, sebuah dokumen yang menyerukan kepedulian terhadap lingkungan dan keadilan iklim. GLSI mendorong pertobatan ekologis dan perubahan gaya hidup, menginspirasi dan mengaktifkan komunitas-komunitas untuk merawat bumi, rumah kita bersama, untuk mencapai ‘keadilan iklim dan ekologis’ (climate and ecological justice).
Romo Ismartono dalam kotbah Misa Pembukaan mengatakan GLSI merupakan ‘anggur baru’ di tengah krisis iklim yang terjadi saat ini, yang menuntut perubahan sikap dan prilaku. Pola-pola dan kebiasaaan lama yang eksploitatif sudah tidak relevan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup dan kehidupan itu sendiri.
“Gerakan Laudato Si’ Indonesia itu adalah anggur baru yang akan hilang bila dimasukkan dalam kantong lama, kebiasaan lama, atau program lingkungan hidup yang lama, kegiatan ekonomi eksploitatif,” ujarnya.
Hal senada juga ditekankan Dr. Sonny Keraf (mantan menteri Lingkungan Hidup) dan Romo Marthen Jenarut (Sekretaris Eksekutif KKP PMP KWI). Gerakan Laudato Si’ Indonesia berupaya menyadarkan kita bahwa lingkungan hidup terkoneksi dengan aspek kehidupan manusia. Untuk itu, gerakan komunitas ini (GLSI) tidak hanya terbatas pada aksi lingkungan tetapi juga pada aksi kemanusiaan seperti memperhatikan kalangan miskin, kelompok rentan, kaum perempuan yang paling potensial atau rentan akibat krisis lingkungan.
Sonny mempertegas krisis dan bencana ekologis adalah ancaman nyata pada kelangsungan bumi dan kehidupannya. Solusi mendasar harus dimulai dari perubahan perilaku dan pola hidup yang didasari sebuah etika baru yang lebih memuliakan bumi dan kehidupannya.
“Karena itu Gereja dan semua agama harus bicara tentang krisis ekologis sebagai krisis bumi. Menyelamatkan kehidupan artinya menyelamatkan bumi dengan segala isinya,” ujar mantan Menteri Lingkungan Hidup ini.
Kolaboratif
Marthen Jenarut yang mewakili Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) memberi apresiasi atas GLSI yang berupaya mewujudkan gagasan ekologi integral, yang menjadi dasar spirit Laudato Si’. Dalam momentum 10 Tahun GLSI ini diperlukan upaya memperluas aktivitas nyata sebagai gerakan bersama umat manusia melalui pendekatan Pastoral Kolaboratif.
“Sebagai lembaga koordinatif, KWI punya tugas memfasilitasi dan mengarahkan keuskupan-keuskupan agar semangat Laudato Si’ itu mewarnai sekaligus menjadi identitas dari manajemen pastoral di tingkat keuskupan,” ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa Gereja Katolik sangat berharap agar komunitas GLSI terus bergerak menuju sebuah aksi perubahan ekologi. GLSI yang diinspirasi dari nilai-nilai etis moral lingkungan hidup harus menjadi gerakan semua orang lintas suku, agama, dan golongan.
Romo Ferry yang berkarya di Keuskupan Bandung dan juga seorang penggerak GLSI melalui pendirian Eco Camp di Bandung, meminta agar jumlah animator LS perlu terus ditingkatkan agar gerakan ini memiliki dampak yang nyata dalam mendorong perubahan sikap umat. Idealnya, kata Romo Ferry, jumlah animator LS mencapai 3 persen dari jumlah umat Katolik di Indonesia yang kini mencapai sekitar 12,5 juta penduduk. Saat ini, jumlah animator mencapai sekitar 300 orang dari berbagai wilayah Indonesia. Jumlah ini tentu masih jauh dari angka ideal. [PR/SP]

Leave a Reply