JAKARTA – Setiap 5 Juni dirayakan sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Indonesia tidak ketinggalan untuk merayakannya, baik oleh pemerintah dan masyarakat sipil. Ada banyak aspek yang terkait dengan lingkungan hidup dan masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Mulai dari hal-hal yang sangat mendasar hingga implementasi, memerlukan terobosan dan tekad untuk menopang prinsip keberlanjutan (sustainability) lingkungan hidup. Tidak sedikit pula ironi atau kontradiksi sering terjadi di tengah upaya melestarikan lingkungan untuk kehidupan. Terkini, eksploitasi nikel di kawasan wisata dunia Raja Ampat, Papua Barat Daya. Masih banyak lagi hal-hal krusial yang perlu menjadi perhatian serius jika semua berkomitmen mempertahankan kehidupan di muka bumi.
Sejumlah agenda dari berbagai pihak biasanya digelar untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Tidak ketinggalan juga digelar oleh Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (SIL UI) dan Emil Salim Institute (ESI) yang sekaligus merayakan Dies Natalis ke-9 SIL dan Sekolah Kajian Stratejik & Global (SKSG) UI. Kegiatan yang digelar adalah seminar dengan tema “Sustainability Talk: Mengakselerasi Implementasi Sustainability-Sinergi untuk Masa Depan Indonesia”. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen SIL UI dan ESI dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan dan memperkuat sinergi lintas sektor dalam menghadapi tantangan lingkungan global. Hadir sejumlah narasumber terkemuka dari kalangan akademisi, legislator, pemerintah, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil. Para pembicara berbagi pengalaman dan strategi konkret dalam mendorong implementasi prinsip keberlanjutan (sustainability), mulai dari sektor energi, pengelolaan sumber daya alam, hingga pembangunan kota berketahanan iklim.
Dekan SIL UI Prof Dr Drs Supriatna, MT dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi dan inovasi mendorong perubahan menuju masa depan yang lebih hijau dan adil. “Momentum Hari Lingkungan Hidup dan Dies Natalis SIL UI ke-9 ini menjadi panggilan bagi kita semua untuk mempercepat aksi nyata. Sustainability hanya bisa dicapai jika semua pihak bersinergi, membangun jejaring, dan bertindak bersama demi generasi masa depan,” ujar Supriatna.
Dalam kapasitasnya sebagai akademisi dan pemimpin lembaga pendidikan lingkungan terdepan di Indonesia, ia menegaskan bahwa ilmu lingkungan tidak bisa dipisahkan dari seluruh aspek pembangunan nasional dan global. “Ilmu lingkungan sangat besar kontribusinya dalam lingkup nasional dan internasional yang terkait dengan berbagai permasalahan pembangunan berskala global, terutama keberlanjutan,” kata Supriatna.

Kegiatan Sustainability Talk ini juga menjadi ajang peluncuran inisiatif kolaboratif program berkelanjutan, termasuk program pendidikan dan pengabdian masyarakat yang berfokus pada transisi energi bersih, circular economy, konservasi keanekaragaman hayati, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi krisis iklim.
Roosdinal Salim selaku Ketua Dewan Pembina ESI menekankan perlunya “Mengakselerasi Implementasi Sustainability” sehingga mampu menjadi katalisator penguatan peran akademisi dan institusi pendidikan tinggi dalam mendukung kebijakan nasional dan agenda global seperti Sustainable Development Goals (SDGs) dan target Net Zero Emissions. Ada banyak hal yang salah kaprah dan perlu dibenahi untuk menjaga keberlanjutan bumi dan dunia.
Rangkaian diskusi Sustainability Talk diisi oleh praktisi lingkungan hidup yang bisa menjadi model dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ada Oday Kodariyah yang juga pelestari tanaman obat dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kemudian Harry Suryadi selaku pegiat media lingkungan. Oday dan Harry adalah figur yang konsisten dalam bidangnya untuk menopang keberlanjutan lingkungan hidup.
Menariknya, diskusi yang digelar di kampus UI Salemba pada Kamis (12/6/2025) lalu itu menjadi semarak karena kehadiran pakar dan begawan Emil Salim. rangkaian kegiatan digelar sekaligus merayakan ulang tahun sang profesor ke-95. Menjelang akhir acara, suasana haru bercampur riang ketika Emil Salim memasuki ruangan diskusi. Di atas kursi roda, Emil terdiam dengan tatapan yang penuh arti. Kondisi kesehatannya yang menurun drastis sehingga hadir menjelang akhir acara. Beberapa kali para murid atau anak bimbingnya berpose foto bersama. Sesekali anaknya Roosdinal Salim, membisiki telinganya mungkin menyampaikan pesan atau menjelaskan siapa yang berpose foto tersebut. Tidak berselang lama, Emil pun meninggalkan ruangan acara tanpa sepata katapun yang terucap.
Emil Salim adalah begawan lingkungan hidup, sikap dan konsistensinya dikenal di dalam dan di luar negeri. Pada 8 Juni 2025 beliau mencapai usia 95 tahun. Mantan Menteri Lingkungan Hidup dengan sejumlah jabatan dan prestasinya telah menorehkan banyak hal untuk mendukung keberlanjutan lingkungan hidup. Mudah-mudahan, semangat dan jejak yang sudah ditorehkan Emil Salim terus menjadi acuan bagi semua pihak. “Komitmen dan pemikiran beliau sangat luar biasa. Saya menyimpan semua wawancaranya sejak 30 tahun lalu dan selalu konsisten untuk mendopang keberlanjutan lingkungan hidup,” ujar Harry Suryadi. [Heri SS/Forum Jurnalis Pangan Indonesia]

Leave a Reply