PASURUAN, SP – Pemerintah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mulai memproduksi garam yang diawali dengan persiapan lahan dan air tua yang merupakan lapisan air paling atas sebagai bahan baku garam.
“Sebenarnya di bulan Juni-Juli harusnya sudah menghasilkan garam, tapi karena cuacanya tidak mendukung sehingga pada Juli baru tahap persiapan lahan dan meja garam. Untuk Agustus ini sudah mempersiapkan air tua sebagai bahan baku garam,” kata Plt Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan Soegeng Soebijanto seperti dikutip dari laman pasuruankab.go.id, Sabtu (23/8/2025).
Namun, katanya, Pemkab belum memasang target produksi per tahun karena sangat ditentukan oleh faktor cuaca. “Untuk target yang ditetapkan tidak ada, karena tahun ini Indonesia mengalami kemarau basah yang cukup panjang, termasuk di Kabupaten Pasuruan,” ujarnya.
Dia menjelaskan produksi garam dalam dua tahun terakhir mengalami penurunan. Pada tahun 2023, total produksi garam mencapai 16.709,39 ton. Pada tahun 2024 turun menjadi 15.225,39 ton. Saat ini, wilayah produksi akan dioptimalkan di 4 wilayah kecamatan seperti Bangil, Kraton, Rejoso dan Lekok dengan luasan sekitar 224 hektar.
Secara terpisah, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur bersama Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB-AD) Lamongan, menjalin kolaborasi strategis dengan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Fajar Samudra. Kolaborasi itu sebagai salah satu upaya mendorong peningkatan nilai tambah garam rakyat di pesisir Blitar selatan, Kabupaten Blitar. Selama ini, nilai jual garam rakyat di daerah itu masih rendah karena masih didominasi garam krosok dengan harga yang fluktuatif.
“Produksi garam rakyat memiliki potensi besar, tetapi nilainya masih rendah. Dengan kolaborasi ini, kami menghadirkan inovasi yang bukan hanya meningkatkan kualitas garam, melainkan juga memperluas pasar dan memperkuat kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujar Ketua Tim dari UPN Veteran Jatim Dr Wiwik Handayani dalam keterangan, Jumat (22/8/2025).
Roudlotul Badi’ah MM dari ITB-AD Lamongan menekankan masyarakat harus menjadi pelaku utama dan program tersebut bukan sebatas pelatihan, melainkan membangun kesadaran bahwa garam adalah komoditas strategis.
Sementara itu, masyarakat setempat menyambut positif kolaborasi program tersebut. Ketua KUB Fajar Samudra, Sukani, membenarkan selama ini mereka hanya memproduksi garam krosok dengan harga fluktuatif. “Melalui pelatihan ini, kami belajar membuat garam inovatif seperti white salt, blue salt, dan yellow salt. Harapan kami, produk ini bisa dipasarkan lebih luas dan meningkatkan pendapatan anggota,” terangnya.

Leave a Reply