SP – Belum banyak yang bisa menjelaskan mengapa di Nabire, Papua Tengah, ada wilayah yang dikenal dengan Pasar Tapioka. Kawasan itu sudah ada sejak akhir tahun 1970-an dan sampai sekarang masih akrab untuk masyarakat Nabire. Ditambah lagi dengan adanya Pasar Sore Tapioka yang mulai beraktivitas dari siang hingga menjelang malam.
Media kabarpangan.com berupaya menguraikan secara garis besar terkait singkong dan Nabire. Sebelumnya pada akhir 2024 lalu, ada juga ulasan yang disampaikan pegiat Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) melalui website agrifood.id.
Seperti diketahui, singkong atau ubi kayu di Tanah Papua bisa dikatakan sudah menyatu dengan masyarakat lokal. Salah satu umbi-umbian tersebut adalah andalan pangan yang sudah berabad-abad menopang kehidupan. Ada banyak sebutan singkong dalam bahasa lokal, namun yang akrab dikenal dengan “kasbi”. Kalau di pedalaman Lembah Kebar, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya, disebut dengan “watini” dalam bahasa setempat. Tentu masih banyak sebutan lainnya.
Di hampir semua wilayah Papua yang pernah disinggahi, pasar-pasar tradisional pasti menyediakan kasbi dengan berbagai variasinya. Kasbi bisa bertahan 2-3 hari dan masih aman untuk dikonsumsi. Kalaupun tidak laku, mama-mama yang jualan kasbi bisa mengolahnya menjadi pakan ternak, terutama babi.
Papua kaya akan umbi-umbian dan memiliki sejumlah varietas lokal. Demikian juga ada sejumlah jenis kasbi yang tentunya perlu kajian lebih detil. Sayangnya, tingkat konsumsi kasbi (singkong) terus menurun sebagaimana dengan sagu. Sejumlah kajian menunjukkan ketergantungan pada beras dari luar Tanah Papua cukup tinggi. Ini juga dibahas dalam sebuah webinar Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) tentang prospek kasbi Papua pada tahun 2022 lalu.
Saat itu menghadirkan petani dan produsen olahan kasbi (keripik) dari Manokwari. Sempat dibahas ketergantungan tapioka dari Surabaya (Jawa Timur) atau kadang Makassar (Sulawesi Selatan). Biasanya untuk kue, kerupuk, mie, bakso, dan beberapa olahan lain. Padahal, tapioka dari kasbi. Cukup ironis.
Namun ini tidak berarti belum ada upaya mengolah kasbi. Sejak tahun 2010-an, ada beberapa program pengolahan kasbi menjadi tapioka yang tersebar di beberapa wilayah. Penulis mencatat ada di Merauke, Jayapura, Keerom, dan Manokwari. Sayangnya lagi, tidak berkelanjutan dari program tersebut. Perlu pendekatan yang lebih terintegrasi dan tidak semata-mata karena proyek. Singkong (kasbi) terkesan sederhana, tetapi bisa fatal seperti yang terjadi pada food estate di Kalimantan Tengah.
Lalu apa kaitannya dengan Nabire? Ibu kota Provinsi Papua Tengah itu merupakan salah satu kawasan yang mempunyai prospek pengembangan singkong. Medio tahun 1970-an, hampir bersamaan dengan lahirnya band musik Black Brother’s di Nabire, pernah terdengar program pengembangan singkong, meski catatan soal ini sangat sedikit.
Informasi tersebut diperkuat dari beberapa sumber yang menyebutkan ketika pembukaan wilayah hutan-hutan Nabire saat itu, banyak ditemui singkong. Bisa jadi inilah yang kemudian Nabire pernah dijuluki Kota Singkong bersamaan dengan sebutan Kota Jeruk. Sejumlah tulisan dan kutipan-kutipan media, menyebutkan ikon Kota Singkong tersebut meski belum dijelaskan secara rinci. Julukan yang nyaris tidak ada di tempat-tempat lain se-Papua. Yang masih tersisa adalah sebutan wilayah tapioka, yang belakangan lebih identik dengan Pasar Sore Tapioka di Nabire.
Papua kaya akan umbi-umbian dan citra Kota Singkong perlu terus diperkuat. Singkong (kasbi) merupakan komoditas yang multiguna. Nigeria dan beberapa negara Afrika menjadikan singkong sebagai pangan utama. Thailand dan Vietnam sudah cukup maju urusan singkong, belakangan Kamboja menjadi negara yang perlu diperhitungkan.
Heri Soba (Wartawan senior, Sekjen MSI, Alumni Pascasarjana IPB).

Leave a Reply