Oleh: Hasanudin Wahid (Sekjen PKB, Anggota Komisi XI DPR RI)
Merunduknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bukanlah sekadar angka yang terpampang di layar. Lebih dari itu, ia adalah cerminan dari terkikisnya kepercayaan, kehati-hatian para investor, dan tanda tanya besar mengenai arah perekonomian kita. Koreksi tajam pada IHSG dalam waktu singkat adalah manifestasi dari perubahan psikologis pasar secara kolektif. Pada tanggal 2 Februari 2026, IHSG kehilangan lebih dari 5% nilainya, anjloknya ratusan triliun rupiah kapitalisasi pasar. Hilangnya US$80 miliar atau setara 1,2 triliun rupiah dari nilai pasar saham ini mengirimkan pesan yang jelas: pasar sedang panik, bukan sekadar berfluktuasi biasa.
Penurunan indeks ini tidak terjadi begitu saja. Data arus modal memperlihatkan di tengah tekanan pasar, investor asing melakukan penjualan bersih lebih dari Rp10 triliun hanya dalam beberapa hari. Saham-saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor perbankan, energi, dan konsumsi, menjadi penyebab utama pelemahan indeks.
Volatilitas pasar juga melonjak tajam. Indikator volatilitas IHSG naik lebih dari 30% dibandingkan rata-rata bulanan, menandakan meningkatnya ketidakpastian. Bahkan, mekanisme penghentian sementara perdagangan (trading halt) kembali diberlakukan – sebuah kejadian langka yang selalu menjadi sinyal kondisi pasar yang ekstrem.
Memang, tekanan global turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan. Suku bunga global yang tinggi membuat dana internasional kembali mencari aset yang lebih aman. Ketegangan geopolitik memperburuk ketidakpastian rantai pasok dan harga energi. Perlambatan ekonomi dunia juga berdampak pada selera risiko investor. Namun, jika faktor-faktor global ini adalah satu-satunya penyebab, dampaknya seharusnya merata di berbagai negara berkembang dan bersifat sementara.
Faktanya, tekanan di pasar saham Indonesia muncul lebih cepat dan terasa lebih dalam dibandingkan negara-negara dengan karakteristik ekonomi serupa. Ini mengindikasikan bahwa faktor eksternal hanyalah pemicu, sementara masalah sebenarnya berakar pada kondisi domestik yang belum sepenuhnya tertangani.
Salah satu masalah utama adalah struktur pasar modal yang masih rentan. Pergerakan IHSG sangat dipengaruhi segelintir saham berkapitalisasi besar. Ketika saham-saham ini tertekan, indeks secara keseluruhan ikut merosot, meskipun sebagian besar emiten lain tidak mengalami perubahan fundamental yang signifikan. Ketergantungan yang berlebihan pada saham unggulan membuat indeks menjadi sensitif terhadap perubahan sentimen jangka pendek.
Selain itu, komposisi investor masih didominasi aliran dana jangka pendek yang reaktif terhadap isu dan rumor. Ketika muncul ketidakpastian, aksi jual terjadi serempak, bukan berdasarkan evaluasi kinerja perusahaan satu per satu. Pasar bergerak lebih karena emosi kolektif daripada analisis rasional. Kondisi ini meningkatkan volatilitas dan memperbesar risiko penurunan tajam dalam waktu singkat.
Persoalan lain yang tak kalah penting adalah rendahnya porsi saham yang benar-benar beredar di publik (free float) pada sejumlah emiten. Free float yang kecil membuat harga saham mudah dimanipulasi oleh transaksi dengan volume terbatas. Dalam situasi pasar yang tidak stabil, kondisi ini membuka peluang bagi praktik spekulatif yang memperparah gejolak. Harga saham dapat melonjak atau anjlok tanpa didukung oleh perubahan kinerja usaha yang nyata.
Masalah-masalah tersebut diperkuat oleh ketidakpastian regulasi dan persepsi lemahnya penegakan aturan pasar. Ketika investor merasa perlindungan tidak optimal dan tata kelola pasar belum sepenuhnya kredibel, mereka cenderung bersikap defensif. Keputusan menahan dana atau menarik investasi sering kali didasarkan pada persepsi, bukan semata-mata data makroekonomi.
Kepercayaan yang Terkoyak
Pasar keuangan berdiri di atas fondasi utama: kepercayaan. Ketika investor meragukan konsistensi kebijakan, transparansi regulasi, atau kualitas pengawasan pasar, reaksi mereka hampir selalu sama – menarik diri dan menunggu di pinggir. Data menunjukkan setiap penurunan tajam IHSG dalam dua tahun terakhir selalu diikuti pelemahan nilai tukar rupiah, penurunan minat penerbitan saham dan obligasi korporasi, serta perlambatan rencana ekspansi bisnis.
Dengan kata lain, gejolak pasar saham tidak hanya terjadi di lantai bursa. Ia merambat ke dunia nyata: ke keputusan perusahaan, ke penyerapan tenaga kerja, dan pada akhirnya ke daya beli masyarakat.
Dampak yang Tak Boleh Diabaikan
Gejolak pasar saham sering kali dianggap sebagai persoalan angka dan grafik. Namun, di balik fluktuasi indeks, ada denyut ekonomi riil yang ikut terguncang, memengaruhi keputusan usaha, lapangan pekerjaan, dan rasa aman finansial masyarakat luas.
Ketika saham-saham perbankan melemah tajam, pelaku keuangan langsung membaca sinyal risiko. Bank menjadi lebih berhati-hati dalam menjaga likuiditas, sehingga ruang untuk menyalurkan kredit baru menyempit, terutama bagi sektor yang dinilai rentan.
Perlambatan penyaluran kredit paling cepat dirasakan oleh usaha kecil dan menengah. Padahal, kelompok inilah yang selama ini menjadi tulang punggung penciptaan lapangan kerja dan penggerak ekonomi lokal di berbagai daerah.
Di sisi korporasi, ketidakpastian pasar membuat rencana ekspansi ditinjau ulang. Banyak perusahaan memilih menunda investasi baru, bukan karena usaha merugi, melainkan karena situasi dianggap belum cukup stabil.
Dampak lain muncul dari sisi konsumsi rumah tangga. Sebagai penopang utama perekonomian nasional, konsumsi sangat bergantung pada rasa percaya diri masyarakat terhadap kondisi keuangan mereka di masa depan. Saat pasar bergejolak, kelas menengah cenderung menahan belanja non-primer. Pengeluaran seperti traveling, pembelian barang awet, atau peningkatan gaya hidup terpaksa ditunda demi amankan dana darurat keluarga.
Sekilas, perubahan ini mungkin tampak kecil. Tapi, kalau berlangsung lama dan dialami banyak orang, penundaan belanja dan investasi yang terakumulasi bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi secara nasional. Karena itu, gejolak IHSG harusnya dilihat sebagai sinyal awal. Ini bukan cuma masalah pasar, tapi peringatan supaya kita sama-sama menjaga stabilitas ekonomi riil dan kepercayaan masyarakat.
IHSG Bukan Penyebab, Tapi Alarm
Penting untuk digarisbawahi: turunnya IHSG bukanlah penyebab krisis ekonomi, melainkan alarm dini. Dia memberi tahu kita bahwa ada ketegangan antara narasi stabilitas dan kenyataan di pasar. Ketika data makro terlihat oke, tapi pasar tetap gelisah, berarti ada jurang kepercayaan yang belum terjembatani.
Indonesia memang masih punya fondasi ekonomi yang lumayan kuat – rasio utang masih terkontrol, sistem perbankan stabil, dan konsumsi dalam negeri besar. Tapi, fondasi saja tidak cukup kalau tidak dibarengi kepastian arah kebijakan dan tata kelola pasar yang kredibel.
Masa Depan Penuh Tantangan
Menghadapi situasi ini, pemulihan tidak bisa cuma mengandalkan intervensi jangka pendek. Ada tiga pekerjaan besar yang harus kita lakukan: Pertama, tegaskan Konsistensi Kebijakan. Pasar butuh sinyal yang jelas dan berkelanjutan, bukan respons reaktif yang berubah-ubah.
Kedua, perbaiki Struktur Pasar Modal. Pendalaman pasar, peningkatan free float, dan perlindungan investor ritel harus jadi agenda serius, bukan sekadar jargon. Ketiga, kembalikan Kepercayaan Publik. Transparansi, penegakan hukum pasar, dan komunikasi kebijakan yang jujur jauh lebih efektif daripada sekadar imbauan untuk optimis.
Penutup
Anjloknya IHSG adalah cerminan dari ekonomi yang sedang diuji, bukan ekonomi yang ambruk. Pemerintah patut diapresiasi atas berbagai langkah stabilisasi yang telah ditempuh, baik melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, penguatan pengawasan pasar, maupun upaya menjaga kepercayaan publik di tengah tekanan global dan domestik.
Namun jalan ke depan memang tidak mudah. Justru di titik inilah arah kebijakan, kualitas institusi, dan keberanian untuk melakukan reformasi struktural benar-benar diuji. Upaya pemerintah perlu terus diiringi konsistensi kebijakan, transparansi, serta komunikasi yang meyakinkan pasar dan masyarakat. Jika kepercayaan dapat dipulihkan, pasar pada akhirnya akan mengikuti. Tetapi jika keraguan dibiarkan berlarut, angka-angka akan terus berbicara—dan dalam sejarah ekonomi, pasar jarang sekali berbohong.

Leave a Reply