BRIN Gagas BIND Center dan Tingkatkan Pemuliaan Pisang, GGP Bangun Kemitraan Petani

Salah satu aktivitas di PT GGP Lampung.

JAKARTA, SP – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengundang para peneliti dari berbagai belahan dunia guna memperkuat pemuliaan tanaman pisang di dunia pada kegiatan Pertemuan Tahunan Kedua Program Riset Pemuliaan Pisang di Bogor, Jawa Barat.

Kepala BRIN Arif Satria melalui keterangan di Jakarta, Senin (9/2/2026) mengatakan kegiatan berjudul “Collection, Characterization and Pre-breeding Wild Bananas” ini menjadi model kemitraan untuk mengatasi masalah global.

“BRIN menyatukan para peneliti dengan keahlian luas dalam biologi, genetika, dan pemuliaan pisang, serta pengetahuan mendalam tentang keanekaragaman pisang liar Indonesia,” kata Arif.

Arif menegaskan Indonesia diakui sebagai salah satu pusat asal dan keanekaragaman pisang.
Ia memaparkan Indonesia memiliki spesies pisang liar dengan total 16 subspesies. Jumlah ini mewakili cadangan genetik yang tak ternilai harganya yang dapat memberikan sifat resistensi dan potensi adaptasi untuk program pemuliaan di masa depan.

Dia menjelaskan pertemuan tahunan kedua ini juga meresmikan Banana Innovation, Network, Database (BIND) Center sebagai pusat kolaborasi global dalam riset dan pengembangan pisang. Menurut dia, inovasi melalui eksplorasi, karakterisasi, dan pra-pemuliaan pisang liar serta kolaborasi dalam jejaring global diharapkan menghasilkan luaran yang terintegrasi dalam sebuah database (INA-BAN). Hal ini menjadi dasar kebijakan pemuliaan pisang lebih lanjut sehingga dapat memberikan dampak nyata.

Diketahui, para peneliti yang hadir dalam agenda ini berasal dari BRIN, IPB University, dan Universitas Padjdjaran yang menjadi mitra kolaborasi utama. Dari luar negeri, sejumlah peneliti asal University of Queensland (Australia), Wageningen University Research (Belanda), Meise Botanic Gardens and the Alliance of Bioversity International & CIAT (Belgia), Institute of Experimental Botany (Republik Ceko), International Institute of Tropical Agriculture (Nigeria), dan mitra pendukung lainnya turut meramaikan kegiatan.

Upaya mengembangkan pisang sudah dilakukan oleh PT Great Giant Pineapple (GGP) sejak dua dekade silam yang berbasis di Lampung. Salah satu kemitraan dengan petani adalah pengembangan pisang mas Tanggamus yang sudah diekspor ke sejumlah negara. Pada 2020 lalu, kemitraan GGP dan petani diawali sekitar 400 hektare dengan melibatkan 521 petani di dua kabupaten. Sekarang sudah berkembang di sejumlah daerah dan tahun lalu sudah ekspansi hingga ke Jawa Timur.

Dalam sebuah kesempatan, Government Relations and External Affair Director GGP, Welly Soegiono, menjelaskan bahwa kemitraan pisang tersebut diharapkan bisa menyejahterakan petani. Petani mendapat jaminan bibit unggul, sarana produksi, dan kepastian harga jual yang ditetapkan lewat kontrak. [PR/SP]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*